1. Didik Nini Thowok
nih dia penari yang penuh prestasi, udah keluar negeri bro karena tarian kece ga tuh.. do'i bukan cuma nari gitu-gitu aja, dia juga nari dengan sentuhan komedi. lahir dengan nama Kwee Tjoen Lian, tapi karena sakit-sakitan. bapaknya Kwee Yoe Tiang ngeganti namanya jadi Kwee Tjoen An. walaupun bokapnya tionghoa tapi nyokapnya Jawa ori bro. namanya Suminah asal desa Citayem, Cilacap. tapi setelah peristiwa G30S/PKI namanya diganti lagi jadi Didik Hadiprayitno. pas masih sekolah dia udah belajar gambar sama nyanyi, suaranya juga bagus buat nembang Jawa. tapi karena sering nonton wayang orang berupa sendratari dia jadi suka sama tarian. tapi karena ekonomi keluarga yang pas-pasan jadi menyulitkan dia buat belajar. singkat cerita nih dia belajar sama temennya namanya Sumiasih. Sumiasih itu temen sekelasnya dia dan jago nari. abis itu dia berguru sama Ibu Sumiyati yang ngajarin ketiga adeknya juga tari Jawa klasik gaya Surakarta. dia ngebayar guru yang ini dari hasil nyewain komik warisan kakeknya. dia juga belajar nari Bali klasik dari tukang cukur. namanya juga kalo udah niat yekan bro apa aja emang mesti dilakuin dengan sepenuh hati. ini nih yang patut dicontoh. dia juga berguru sama A.M. Sudiharjo yang sering nyiptain tari kreasi baru. dia juga sempet belajar di Kantor Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Temanggung. salah satu gurunya itu Prapto Prasojo yang ngajar tari juga di padepokan tari milik Bagong Kussudiarjo di Yogyakarta. singkat cerita karena saking cintanya dan rasa ingin tau tentang segala tarian, pas di Jepang dia juga belajar tari Noh dan Flamenco waktu di Spanyol.
2. Affandi
Affandi dikenal sebagai maestro seni lukis Indonesia yang beraliran ekspresionis dan romantisme. doi udah ngelukis sampe lebih dari 2000 lukisan!! gileeee.. dia juga sering ngadain pameran di India, Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat. Affandi emang cuma salah satu dari sekian pelukis tersohor Indonesia semacem Raden Saleh, Basuki Abdullah, dan lain-lain. tapi karena keistimewaannya di mata dunia dia dapet penghargaan. contohnya dari majalah Herald Tribune yang nyebut dia pelukis Ekspressionis baru Indonesia atau di Itali dia dapet gelar Grand Maestro. Berbagai penghargaan dan hadiah bagaikan membanjiri perjalanan hidup dari pria yang hampir seluruh hidupnya tercurah pada dunia seni lukis ini. Di antaranya, pada tahun 1977 ia mendapat Hadiah Perdamaian dari International Dag Hammershjoeld. Bahkan Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia pun mengangkatnya menjadi anggota Akademi Hak-Hak Azasi Manusia.
Dari dalam negeri sendiri, tidak kalah banyak penghargaan yang telah diterimanya, di antaranya, penghargaan "Bintang Jasa Utama" yang dianugrahkan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1978. Dan sejak 1986 ia juga diangkat menjadi Anggota Dewan Penyantun ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta. Bahkan seorang Penyair Angkatan 45 sebesar Chairil Anwar pun pernah menghadiahkannya sebuah sajak yang khusus untuknya yang berjudul "Kepada Pelukis Affandi".
Untuk mendekatkan dan memperkenalkan karya-karyanya kepada para pecinta seni lukis, Affandi sering mengadakan pameran di berbagai tempat. Di negara India, dia telah mengadakan pameran keliling ke berbagai kota. Demikian juga di berbagai negara di Eropa, Amerika serta Australia. Di Eropa, ia telah mengadakan pameran antara lain di London, Amsterdam, Brussels, Paris, dan Roma. Begitu juga di negara-negara benua Amerika seperti di Brasil, Venezia, San Paulo, dan Amerika Serikat. Hal demikian jugalah yang membuat namanya dikenal di berbagai belahan dunia. Bahkan kurator terkenal asal Magelang, Oei Hong Djien, pernah memburu lukisan Affandi sampai ke Rio de Janeiro.
3. Gregorius Sidharta
doi pemahat ternama asli Indonesia. dia juga dianggap sebagai tokoh pembaharuan seni pahat Indonesia. dia juga pernah dikirim keluar negeri tepatnya pada tahun 1953 buat belajar di Jan van Eyck Academie di Maastricht, Belanda. Nama Gregorius Sidharta mulai mencuat ketika ia menyajikan karyanya yang berjudul "Tangisan Dewi Betari" yang kini menjadi koleksi sebuah museum di Jepang. Karya patungnya itu melawan konvensi seni patung Barat maupun lokal, karena bentuknya yang pipih, sehinga dianggap bukan patung.
Sidharta juga menggunakan media yang tak lazim dalam seni patung, seperti beras atau mata uang. Ia juga menjelajahi berbagai media seni rupa lainnya, seperti seni lukis, cetak saring, keramik, dan kerajinan tangan.
Karya-karyanya yang lain yang membuatnya terkenal antara lain adalah "Tonggak Samudra", monumen Pelabuhan Peti Kemas di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, "Garuda Pancasila" di atas podium Gedung MPR/DPR, patung Bung Karno di makamnya di Blitar, tata ruang Monumen Proklamasi, yang menghadirkan deretan pilar deformasi dari bentuk sayap garuda, yang menjadi latar belakang tokoh Proklamasi, Soekarno-Hatta, rancangan Piala Citra yang merupakan perpaduan seni tradisional wayang dan modern, dan patung "Mekatronik". Ia pernah menampilkan karya-karyanya di pameran Taman Patung Olimpiade Seoul, Korea Selatan (1986), Taman Patung ASEAN di Manila, Filipina, pameran patung di Plaza Elgala di Fukuoka, Jepang.
udah ye segitu dulu, pas gua nyari info dan nulis di post ini udah lumayan tengah malem.. tenang aja masih banyak ko seniman tersohor Indonesia yang udah bolak-balik keluar negeri.. si ya neks taim yo!!


